| CHRISTIAN APOLOGETICS & RESEARCH MINISTRY
|
www.carm.org
|
HOME PAGE
|
Allah
menciptakan kejahatan
Yesaya 45:7 dan Amos 3:6
(God
creates evil)
Isaiah 45:7 and Amos 3:6
-
(Yesaya
45:7) -
"yang menjadikan terang dan
menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan
nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini."
-
(Amos
3:6) - "Adakah
sangkakala ditiup di suatu kota, dan orang-orang tidak gemetar?
Adakah terjadi malapetaka di suatu kota, dan TUHAN tidak
melakukannya?"
Catatan: Kedua ayat ini tidak
bermasalah dalam terjemahan baru Indonesia, tetapi dalam beberapa
versi terjemahan bahasa Inggris, kata "malapetaka" dalam
"nasib malang" dalam Yesaya 45:7 dan Amos 3:6
telah diterjemahkan menjadi "evil" yang berarti kejahatan.
Benarkah
bahwa Allah menciptakan kejahatan? Untuk dapat menjawab pertanyaan
ini, pertama-tama kita harus memahami dulu bagaimana kata
kejahatan yang berasal dari kata "rah" dipakai dalam Alkitab,
perhatikanlah konteks dari Yesaya 45:7, dan lihatlah bagian-bagian
lain dalam tema yang sama.
Pertama-tama, kata "rah" diterjemahkan
menjadi beberapa kata dalam Alkitab. Dalam Alkitab Inggris versi
King James, kata rah diterjemahkan 663 kali. 431 diterjemahkan
sebagai "evil = kejahatan". Sisanya, 232 kali diterjemahkan
sebagai "wicked = jahat", "bad = buruk", "hurt = menyakitkan",
"harm = membayakan", "ill = sakit", "sorrow =
kesedihan", "mischief = kerusakan", "displeased = tidak
menyenangkan", "adversity = kemalangan", "affliction = kesusahan",
"trouble = masalah", "calamity = malapetaka", "grievous = dukacita",
"misery = penderitaan". Jadi, dapat kita lihat di sini bahwa kata
"rah" tidaklah mesti diterjemahkan semata-mata sebagai "evil=kejahatan".
Itulah mengapa Alkitab dari versi yang berbeda menerjemahkan
bagian ini secara berbeda pula. Kata ini diterjemahkan sebagai
"calamity = malapetaka" dalam versi NASB dan NKJV; "disaster =
bencana" dalam versi NIV; dan "woe = kesengsaraan" dalam versi
RSV;
Kedua, konteks dari ayat ini adalah mengenai
fenomena alam:
"Akulah
TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku
telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, 6supaya
orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa
tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang
lain, 7yang
menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib
mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat
semuanya ini."
(Isaiah 45:5-7).
Perhatikanlah bahwa konteks dari ayat tersebut adalah
berhubungan dengan siapa Allah sebenarnya. Allah sendiri yang
membicarakan fenomena alam (matahari, terang, gelap) dan Allah
pula yang menyebabkan terjadinya kondisi baik dan kondisi buruk.
Secara konteks, ayat ini berhubungan dengan bencana alam dan
masalah-masalah kenyamanan manusia. Di sini tidak dibicarakan
mengenai kejahatan moral; melainkan, berhubungan dengan bencana,
kesukaran, dll. Hal ini konsisten dengan berbagai bagian Alkitab
lainnya, misalnya:
- "Tetapi
TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah
manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat
orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?"
(Keluaran 4:11).
- "Adakah
sangkakala ditiup di suatu kota, dan orang-orang tidak
gemetar? Adakah terjadi malapetaka di suatu kota, dan TUHAN
tidak melakukannya?" (Amos 3:6).
Dari
kedua ayat di atas dapat kita lihat bahwa Tuhan terlibat dalam
bencana dan masalah dalam dunia ini. Keluaran 4:11 berbicara
mengenai kelemahan manusia dan Amos 3:6 berbicara mengenai
kesengsaraan sebuah kota. Jadi bukan kejahatan moral yang
diberikan Allah, tetapi bencana dan kesukaran atas manusia.
Tentu saja, hal ini akan menimbulkan
pertanyaan baru mengenai: mengapa Allah melakukan hal-hal
seperti itu?, pertanyaan ini tidak akan saya jawab di bagian ini.
Tetapi, kita dapat percaya bahwa apa pun yang dilkerjakan Allah
adalah benar dan ditujukan untuk mendidik, membimbing, dan
mendisiplinkan jemaat-Nya.
Ketiga, tedapat ayat-ayat yang jelas-jelas
menunjukkan bahwa Allah itu suci dan bahwa Ia tidak menyetujui
kejahatan.
- "Gunung
Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya
adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan
benar Dia." (Ulangan 32:4).
- "Mata-Mu
terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat
memandang kelaliman. Mengapa Engkau memandangi orang-orang
yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila
orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia? (Habakuk
1:13).
Kita
dapat melihat bahwa Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa Allah
itu suci dan tidak menyukai kejahatan, bahwa kata "rah" (kejahatan)
dalam bahasa Ibrani dapat mempunyai bermacam-macam arti, dan
berdasarkan konteksnya, ayat di atas membicarakan mengenai
bencana dan kesulitan alam. Karenanya, Allah tidak menciptakan
kejahatan dalam pengertian kejahatan moral, tetapi Ia memang
menciptakan bencana.
Kembali ke
Kesulitan Alkitab -
Yesaya Hingga
Maleakhi

CHRISTIAN APOLOGETICS AND RESEARCH
MINISTRY
Home
? Matthew J. Slick, 2002
|